Best Article: Character Building (Membangun Karakter)

Character Building

Contoh character building, character building artinya, character building pdf, character building ppt, pengertian character building, menurut para ahli, character building training

what is character building for students?

Dalam konteks pendidikan pengertian Membangun Karekter (character building) adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan perangai dan tingkah laku yang baik berlandaskan nilai-nilai pancasila.

Character Building Adalah membangun karakter diri yang terdiri dari 2 suku kata yaitu membangun (to build) dan karakter (character) artinya membangun yang mempunyai sifat memperbaiki, membina, mendirikan. Sedangkan karakter adalah tabiat, watak, aklak atau budi pekerti yang membedakan seserang dari yang lain. Dalam konteks pendidikan (Modul Diklat LAN RI) pengertian Membangun Karekter (character building) adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan perangai dan tingkah laku yang baik berlandaskan nilai-nilai pancasila.



Pengertian Karakter Menurut Para Ahli
Berikut ini adalah pengertian Karakter Menurut Para Ahli, adapun para ahli tersebut diantaranya :

Character Menurut Kamisa
Menurut Kamisa, karakter yakni ialah sifat kejiwaan, akhlak dan budi pekerti yang dimiliki oleh seseorang yang mana dengan ada hal tersebut dapat membuatnya berbeda apabila dibandingkan dengan orang lainnya. Berkarakater juga bisa diartikan sebagai memiliki sebuah watak dan kepribadian.

Character Menurut Doni Kusuma
Menurut Doni Kusuma, karakter merupakan sebuah gaya, sifat, ciri, dan juga karakteristik yang dimiliki oleh seseorang yang berasal dari pembentukan atupun tempaan yang diperolehnya melalui lingkungan di sekitarnya.

Character Menurut Maxwell
Menurut Maxwell karakter pada dasarnya jauh lebih baik daripada dengan sekedar perkataan. Selain itu, karakter ialah pilihan yang dapat menentukan sebuah tingkat kesuksesan dari seseorang.

Character Menurut Wyne
Menurut Wyne, karakter menandai cara teknis maupun cara yang digunakan untuk memfokuskan terhadap penerapan dari nilai-nilai kebaikan ke dalam sebuah tingkah laku dan juga tindakan

Character Menurut Alwisol
Menurut Alwisol, karakter merupakan penggambaran dari tingkah laku yang dilakukan dengan cara memperlihatkan serta menonjolkan nilai, baik itu benar maupun salah secara implisit dan juga eksplisit. Karakter berbeda dengan sebuah kepribadian yang di dalamnya tidak menyangkut nilai sama sekali.

Character Menurut Gulo W
Menurut Gulo W, karakter adalah sebuah kepribadian yang bisa dilihat dari titik moral maupun tolak etis, misalnya seperti kejujuran seseorang. Karakter mempunyai hubungan pada sifat-sifat yang umumnya tetap.

Character Menurut Ryan & Bohlin
Menurut Ryan & Bohlin, karakter adalah sebuah pola perilaku seseorang. Orang yang memiliki karakter yang baik tentu saja akan paham mengenai kebaikan, suka akan kebaikan, serta mengarjakan suatu kebaikan. Orang yang berperilaku yang sesuai kaidah moral disebut sebagai orang yang berkarakter mulia.

Character Menurut Imam Al-Ghajali
Menurut Imam Al-Ghajali, karakter ialah sifat yang tertanam di dalam sifat dan jiwa seseorang. Sehingga mudah sikap, tindakan, dan perbuatan tersebut akan terpencarkan secara spontan.

Character Menurut W.B Saunders
Menurut W.B Saunders, karakter merupakan sifat yang nyata dan berbeda yang mana hal itu ditunjukkan oleh seseorang. Karakter tersebut bisa dilihat dari beragam macam atribut pada tingkah laku seseorang.

Character Menurut Soemarno Soedarsono
Menurut Soemarno Soedarsono, karakter adalah sebuah nilai yang telah terpatri di dalam diri seseorang melalui pengalaman, pendidikan, pengorbanan, dan percobaan, serta juga pengaruh lingkungan yang kemudian dipadukan dengan nilai nilai yang terdapat pada diri seseorang dan menjadi nilai intrinsik yang dinyatakan di dalam sistem daya juang yang kemudian melandasari sikap dan perilaku, serta pemikiran seseorang.

Character Menurut Drs. Hanna Djumhana Bastaman M.Psi
Menurut Drs. Hanna Djumhana Bastaman M.Psi, karakter adalah bentuk dari aktualisasi diri serta internalisasi nilai serta moral yang berasal dari luar menjadi satu ke dalam bagian dari kepribadiannya.

Character Menurut Prof. Dr. H.M Quraish Shihab
Menurut Prof. Dr. H.M Quraish Shihab, karakter ialah pengalaman mengenai pendidikan & sejarah yang mendorong kemampuan yang ada pada diri seseorang guna menjadi alat ukur ataupun sisi manusia untuk mewujudkannya. Baik dalam bentuk pemikiran, sikap, perilaku, dan karakter serta budi pekerti.

Character Menurut Depdiknas (2008)
Menurut Pusat Bahasa Depdiknas, karakter ialah bawaan yang ada pada hati, jiwa, kepribadian, sifat, tabiat, budi pekerti, personalitas, temperamen, dan juga watak. Berkarakter bisa juga diartikan sebagai kepribadian, berperilaku, bersifat, berwatak, dan bertabiat.

Character Menurut Kementerian pendidikan dan Kebudayaan (Kemedikbud)
Menurut Kemedikbud, karakter adalah bentuk cara berpikir dan juga berperilaku seseorang yang kemudian akan menjadi ciri khasnya orang tersebut.

Character Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Menurut KBBI, karakter bisa didefinisikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, akhlak yang ada pada diri seseorang yang nantinya akan membedakan seseorang tersebut dengan orang lainnya.

Secara bahasa membangun karakterter (Character building) terdiri dari dua kata yakni, Membangun (to build) bersifat memperbaiki, membina, mendirikan, mengadakan sesuatu. 

Sedangkan karakter (character), yakni tabiat, watak, sifat- sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dalam konteks disini adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak mulia, insan manusia sehingga menunjukan perangai dan tingkah laku yang baik. Karakter berasal dari bahasa Yunani “character ” yang berakar dari diksi dari “charassein” yang berarti memahat atau mengukir, sedangkan dalam bahasa Latin karakter bermakna memberikan tanda. 

Dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. 

Karakter juga dapat diibaratkan seperti sebuah ukiran. Sebuah ukiran akan melekat kuat pada benda yang diukir dan tidak mudah termakan waktu. 

Sebuah pola, baik itu pikiran, sikap, maupun tindakan, yang melekat pada diri seseorang dengan sangat kuat dan sulit dihilangkan disebut sebagai karakter. 

Definisi karakter menurut para ahli diantaranya: 

Menurut Hermawan Kartajaya, karakter adalah “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu individu. Ciri khas ini asli dan mengakar pada individu sehingga mempengaruhi perilaku dan pemikiran sehari-harinya.

Menurut Alwisol, karakter merupakan penggambaran tingkah laku yang dilaksanakan dengan menonjolkan nilai (benar – salah, baik – buruk) secara implisit atau pun ekspilisit. 

Karakter berbeda dengan kepribadian yang sama sekali tidak menyangkut nilai – nilai. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan sesuatu mendasar dan bersifat abstrak yang ada dalam diri seseorang yang mempengaruhi sikap, tindakan, dan cara berfikir sehari-hari. 

Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan. 

Metode pembentukan karakter Metode pembentukan karakter berkaitan langsung dengan tahapan perkembangannya. Tahapan tersebut meliputi dalam tiga tahapan yaitu: 

  1. Tahapan karakter lahiriyah (karakter anak-anak), Pada tahapan lahiriyah metode yang digunakan adalah pengarahan, pembiasaan, keteladanan, penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman) serta indoktrinasi. 
  2. Tahapan karakter berkesadaran (karakter remaja), tahapan perilaku berkesadaran, metoda yang digunakan adalah penanaman nilai melalui dialog yang bertujuan meyakinkan, pembimbingan bukan instruksi dan pelibatan bukan pemaksaan. 
  3. Tahapan kontrol internal atas karakter (karakter dewasa), tahapan kontrol internal atas karakter maka metoda yang diterapkan adalah perumusan visi dan misi hidup pribadi, serta penguatan akan tanggungjawab langsung kepada Allah. Tahapan diatas lebih didasarkan pada sifat daripada umur. 


Teori pembentukan karakter
Teori Pembentukan Karakter menurut Stephen Covey melalui bukunya 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif, menyimpulkan bahwa sebenarnya ada tiga teori utama yang mendasarinya, yaitu : 


  1. Determinisme Genetis, pada dasarnya mengatakan kakek-nenek kitalah yang bebuat begitu kepada kita. Itulah sebabnya kita memiliki tabiat seperti ini. Kakek-nenek kita mudah marah dan itu ada pada DNA kita. Sifat ini diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya dan kita mewarisinya. Lagipula, kita orang Indonesia, dan itu sifat orang Indonesia. 
  2. Determinisme Psikis, pada dasarnya orangtua kitalah yang berbuat begitu kepada kita. Pegasuhan kita, pengalaman masa anak-anak kita pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan susunan karakter kita. Itulah sebabnya kita takut berdiri di depan banyak orang. Begitulah cara orang tua kita membesarkan kita. Kita merasa sangat bersalah jika kita membuat kesalahan karena kita “ingat jauh di dalam hati tentang penulisan naskah emosional kita ketika kita sangat rentan, lembek dan bergantung. Kita “ingat” hukuman emosional, penolakan, pembandingan dengan orang lain ketika kita tidak berprestasi seperti yang diharapkan. 
  3. Determinisme Lingkungan, pada dasarnya mengatakan bos kita berbuat begitu kepada kita – atau pasangan kita, atau anak remaja yang berkital itu, atau situasi ekonomi kita, atau kebijakan nasional. Sesorang atau sesuatu di lingkungan kita betanggungjawab atas situasi kita.


Proses Pembentukan Karakter Pondasi awal terbentuknya karakter sebenarnya sudah dimulai sejak anak baru lahir sampai usia 3 atau 5 tahun. Pada masa itu anak masih menggunakan pikiran bawah sadar karena kemampuan penalarannya belum tumbuh. Sehingga ia akan menerima begitu saja semua informasi dan stimulus yang diberikan padanya.

Pembentukan karakter tidak bisa berhenti begitu saja, karena merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Orang tua dan lingkungan keluargalah yang berperan penting dalam peletakan pondasi ini. 

Keluarga merupakan pendidik utama dan pertama dalam kehidupan anak karena dari keluargalah anak mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya serta menjadi dasar perkembangan dan kehidupan anak dikemudian hari. Anak yang mendapat kesan baik dalam interaksinya di lingkungankeluarga maka konsep diri anak akan menjadi baik pula, begitu juga sebaliknya. 

Konsep diri inilah yang akan berdampak ketika si anak sudah tumbuh dewasa. Hal yang diakui sebagai faktor yang mempengaruhi karakter adalah faktor keturunan/gen. Jika tidak ada proses berikutnya yang memiliki pengaruh kuat, boleh jadi faktor genetis inilai yang akan menjadi karakter anak. Munir mengemukakan bahwa masih faktor lain yang juga dapat mempengaruhi karakter seseorang. 

Faktor- faktor itu adalah makanan dan teman. Membangun karakter anak merupakan proses yang terus menerus atau berkesinambungan agar terbentuk tabiat, watak, dan sifat- sifat kejiwaan yangkondusif dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta dilandasi dengannilai-nilai dan falsafah hidup. Sehingga dengan kata lain dapat disimpulkan bahwakarakter sebenarnya dapat dibentuk.

Karakter terbentuk setelah mengikuti proses sebagai berikut : 
 Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama, ideology, pendidikan, temuan sendiri atau lainnya. 

  1. Nilai membentuk pola fikir seseorang yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk rumusan visinya. Visi turun ke wilayah hati membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan membentuk mentalitas. Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap. 
  2. Sikap-sikap yang dominan dalam diri seseorang yang secara keseluruhan mencitrai dirinya adalah apa yang disebut sebagai kepribadian atau karakter. 
  3. Proses pembentukan mental tersebut menunjukan keterkaitan antara fikiran, perasaan dan tindakan. Dari akal terbentuk pola fikir, dari fisik terbentuk menjadi perilaku. Cara berfikir menjadi visi, cara merasa menjadi mental dan cara berprilaku menjadi karakter. Apabila hal ini terjadi terus menerus akan menjadi sebuah kebiasaan. 


Langkah Mengubah Karakter 
Dengan mengetahui tahapan, metode dan proses pembentukan karakter, maka bisa diketahui bahwa akar dari perilaku atau karakter itu adalah cara berfikir dan cara merasa seseorang. Sehingga untuk mengubah karakter seseorang, kita bisa melakukan tiga langkah berikut : 

  1. Terapi kognitif : melakukan perbaikan dan pengembangan cara berfikir dimana fikiran menjadi akar dari karakter seseorang. 
  2. Terapi mental : melakukan perbaikan dan pengembangan cara merasa, karena mental adalah batang karakter yang menjadi sumber tenaga jiwa seseorang.
  3. Terapi fisik : melakukan perbaikan dan pengembangan pada cara bertindak yang mendorong fisik menjadi pelaksana dari arahan akal dan jiwa. Hidup di zaman modern ini semua serba ada, baik dan buruk, halal haram, benar salah nyaris campur menjadi satu, sulit untuk dibedakan. 

Maka sebaik- baik orang yang dapat memilah dan memilih suatu perbuatan yang baik, karena perbuatan baik ini akan berdampak pada perilaku manusia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk karakter: 

Pembiasaan tingkah laku sopan. 
Sopan santun atau etiket adalah akhlak yang bersifat lahir. Ukuran sopan santun terletak pada cara pandang suatu masyarakat. Oleh karena itu cara pandang sopan-santun dan sikap suatu daerah mungkin berbeda dengan cara pandang masyarakat yang lain. 

Sopan santun diperlukan ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain, dengan penekanan utama pertama kepada orang yang lebih tua atau guru atau atasan, kedua kepada orang yang lebih muda, anah buah, anak, murid, bawahan dan sebagainya, ketiga kepada orang yang setingkat atau sebaya, seusia atau setingkat status sosial. Disamping itu sopan santun juga berlaku ketika berkomunikasi dengan kawan atau lawan. Komunikasi dengan lawan memerlukan kekuatan diplomatis yang lebih kuat dibandingkan dengan perilaku kasar. 

Kesopanan bisa menambat hati lawan, sebaliknya kekerasan akan menimbulkan dendam. Sopan santun pada anak tertanam melalui kebiasaan sehari-hari di rumah. Apa yang diajarkan orang tua di rumah akan melekat pada diri anak. 

Sopan santun pada remaja tertanam disamping melalui kebisaan dalam rumah juga melalui proses pergaulan teman sebaya, di sekolah atau melalui suatu tontonan. Sedangkan sopan santun pada remaja disamping karena perbekalan pada masa anak-anak dan remaja terbentuk melalui perilalu para tokoh masyarakat, terutama tokoh yang dihormati dan diidolakan. 

Kebersihan, kerapian dan ketertiban 
Pengetahuan tentang hubungan kebersihan dengan lingkungan dibentuk melalui proses pendidikan, tetapi kepekaan terhadap kebersihan dibangun melalui proses pembiasaan sejak kecil. 

Konsisitensi orang tua terhadap keharusan anak untuk cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur, mandi dan gosok gigi secara tertur, menyapu lantai dan halaman rumah, buang sampah di tempat sampah, menempatkan sepatu ditempatnya, merapikan baju dan buku dikamarnya. 

Merapikan tempat tidur setiap bangun tidur, adalah merupakan pekerjaan membiasakan anak pada hidup bersih hingga kedasaran akan kebersihan itu menjadi bagian dari kepribadiannya. 

Pada usia remaja kebersihan harus didukung oleh pengetahuan empirik, misalnya melihat benda dan air kotor, tangan kotor dan sebagainya dengan mikroskup sehingga bisa menyaksikan sendiri kuman-kuman penyakit pada sesuatu yang kotor tersebut. 

Adapun perilaku bersih pada masyarakat diwujudkan dengan pengaturan yang bersistem, misalnya sistem pemeliharaan kebersihan umum lengkap dengan sarana yang tesedia, sistem sanitasi, sistem pembuangan limbah ditempat umum kemusian didukung dengan peraturan yang menjamin kelangsungan hidup bersih dan tertib. 

Singapura misalnya mengenakan denda sekitar lima ratus ribu rupiah bagi orang yang hanya membuang puntung rokok secara sembarangan.

Kejujuran Kejujuran merupakan sifat terpuji. 
Ciri orang jujur adalah tidak suka bohong, meski demikian jujur yang berkonotasi positif berbeda dengan jujur dalam arti lugu dan polos. Dalam sifat amanah mengandung arti cerdas, yakni kejujuran yang disampaikan dengan bertanggung jawab. Jujur bukan berarti mengatakan semua yang diketahui apa adanya, tetapi mengatakan apa yang diketahui sepanjang mengandung kebaikan dan tidak menyebutnya jika diperkirakan memabawa akibat buruk bagi dirinya dan orang lain. 

Disiplin. 
Tingkah laku disiplin dilakukan karena mengikuti suatu komitmen. Disiplin bisa berhubungan dengan kejujuran, bisa juga tidak. Kejujuran juga diwariskan oleh genetika orang tuannya, terutama ketika anak masih dalam kandungan, secara psikologis dapat menetas pada anaknya. 

Keharmonisan orang tua didalam rumah akan sangat berpengaruh dalam membentuk watak dan kepribadian anak-anak pada umur perkembangannya. Ketika anak masih kecil, pantang orang tua bebohong kepada anaknya, karena kebohongan yang diarasakan oleh anak akan menimbulkan kegelisahan serta merusak tatanan psikologi seorang anak. 

Pada anak usia kelas IV SD hingga SLTP, kejujuran sebaiknya dibiasakan sejalan dengan kedisplinan hidup, disiplin belajar, disiplin ibadah, displin bekerja membantu orang tua di rumah, disiplin keuangan dan dan disiplin agenda harian anak. Pada anak usia SMA kejujuran dan kedisiplinan yang ditanamkan harus sudah disertai alasan yang rasional, baik dalam kehidupan dalam rumah tangga, sekolah maupun dilingkungan masyarakat. Sistem punishment dan reward sudah bisa diterapkan secara rasional.

Pada usia mahasiswa, kejujuran dan kedisiplinan dinisyakan melalui pemberian kepercayaan dalam berbagai tanggungjawab.kepada mereka sudah ditekankan komitmen dan substansi, sementara prosedur dan teknik mungkin harus sudah diserahkan kepada seni dan kreatifitas mereka. 

Pada orang dewasa yang sudah bekerja, kejujuran dan kedisiplinan diterapkan melalui pelaksanaan sistem dimana peluang untuk berbuat tidak jujur dipersempit. Misalnya dengan pengawasan yang transparan. Betapapun orang jujur dapat berubah menjadi tidak jujur menakala peluang tidak jujur dan tidak disiplin terbuka tanpa pengawasan.

Membangun Karakter (Character Building)

Pembangunan karakter tidak semudah membangun rumah, jembatan, jalan, dan yang lainnya untuk membangun karakter adalah bentuk esensi jiwanya yang sedang berlangsung untuk menjadi lebih baik dan mulia, membangun karakter banyak komponen yang harus disertakan pembentukan lembaga-lembaga pendidikan, orang tua dan masyarakat untuk bekerja dengan ideal dengan harapan bersama. disiplin diri adalah penting dalam setiap upaya membangun dan membentuk karakter seseorang karena karakter meliputi:

Kualitas positif dari orang, yang membuatnya menarik dan atraktif. reputasi seseorangseseorang yang tidak biasa atau memiliki kepribadian yang eksentrik. Karakter akar kata yang dapat ditarik dari kata kharakter Latin, kharassein dan kharax berarti "alat markup" (alat untuk menandai) untuk Burn "(mengukir) dan permainan yang tajam (show). 

Kata ini banyak digunakan (pulang) dalam bahasa Perancis (KARAKTER) di abad ke-14 dan memasuki bahasa Inggris di sebuah karakter, sebelum menjadi karakter Indonesia. Dalam kamus poerwardarminta, karakter diartikan sebagai karakter, karakter, sifat, moral atau sopan santun. 

Apa yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan pengertian diatas dapat mengatakan bahwa membangun karakter (character building) adalah proses mengukir atau memahat jiwa sehingga yang unik, menarik dan berbeda dan membedakan dengan orang lain. Sebagai surat aflabet tidak pernah di sekitar mereka, sehingga karakter dapat dibedakan dari satu sama lain (termasuk mereka yang tidak / belum ditandai atau karakter tercela).

Pada pembentukan proses pembentukan karakter termasuk nama besar "Helen Keller" (1880-1968). wanita luar biasa ini menjadi buta dan tuli pada usia 19 bulan, tetapi dengan bantuan dari keluarga dan kepemimpinan Annie Sullivan (yang juga buta, dan setelah serangkaian operasi akhirnya bisa melihat secara terbatas), kemudian menjadi buta tuli orang yang pertama kali lulus dengan pujian cum Radcliffe Tinggi di 1904, mengatakan: "karakter tidak dapat dikembangkan dalam kemudahan dan cukup. 

Hanya melalui pengalaman ujian dan penderitaan dapat jiwa diperkuat, visi terhapus, ambisi terinspirasi dan kisah sukses "(karakter tidak dapat dikembangkan dalam kemudahan dan cukup.Hanya oleh pengalaman dan jiwa dari penderitaan bisadiperkuat pemeriksaan terhapus visi, ambisi terinspirasi dan keberhasilan yang dicapai). 

Ungkapan dapat meringkas kisah hidupnya telah sangat menginspirasi. Berkat perjuangan panjang dan ketekunan yang sulit untuk mengalahkan, ia kemudian menjadi salah satu pahlawan besar dalam sejarah Amerika yang telah menerima penghargaan di prestasi dan dedikasi nasional dan Intenasional.

Helen Keller adalah karakter dari model manusia (terpuji). Dan hidupnya cerita menunjukkan bagaimana proses membangun karakter yang membutuhkan disiplin yang besar, karena tidak pernah mudah dan langsung dan seketika. pemikiran yang mendalam diperlukan untuk membuat serangkaian pilihan moral (moral) dan tidaklanjuti dengan tindakan nyata sehingga menjadi pemikiran praktis dan praktek. Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk membuat kebiasaan dan membentuk karakter atau karakter seseorang.

Selain itu, pentingnya nilai karakter atau berarti bagi kehidupan manusia saat ini bisa menjadi hakim laporan dari Pengadilan dikutip di Amerika, antonim Scalia, "perlu diingat bahwa otak dan belajar, seperti otot dan keterampilan fisik sebuah artikel perdagangan. Mereka yang dibeli dan dijual. Anda dapat menyewa dengan tahun atau per jam. Satu-satunya hal di dunia ini tidak untuk karakter dijual. Dan jika itu tidak mengatur dan mengarahkan otak Anda dan belajar, mereka akan membuat Anda dan dunia lebih berbahaya daripada baik. " (Ingat bahwa otak dan pembelajaran, seperti otot dan fisik keterampilan, item perdagangan. 

Mereka yang dibeli dan dijual. Anda dapat menyewa per tahun atau per jam. Satu-satunya di dunia ini tidak untuk dijual adalah karakter. Dan jika itu tidak diatur dan navigasi otak Anda dan belajar, mereka akan menyakiti Anda dan dunia lebih dari yang baik. SCILIA menunjukkan persis bagaimana karakter harus menjadi dasar dari kecerdasan dan penyesuaian otak (dan belajar). Untuk kecerdasan dan pengetahuan (termasuk informasi) itu sendiri dapat perjualbelikan efek. Dan menjadi terkenal di era pengetahuan adalah Badwa Powes.

Masalahnya adalah, ketika orang-orang yang dikenal cerdas dan baik ditunjukkan karakter terpuji, tidak ada keraguan bahwa dunia akan menjadi lebih dan semakin parah. Dengan kata lain, pengetahuan adalah kekuatan akan lebih sempurna jika ditambahkan ke iklan tidak pernah muncul Kompas, bahwa pengetahuan adalah kekuatan, tapi karakter adalah.

Dengan demikian, pentingnya proses alam dan pelatihan yang tidak pernah mudah untuk melahirkan manusia tidak bisa dibeli. Untuk ini pendidikan dan pengajaran, termasuk mengajar di lembaga pelatihan di lembaga non formal harus bisul, itu adalah sifat manusia konstruksi (terpuji), manusia berjuang untuk dia -bahkan dan orang-orang yang bisa mempengaruhi aga menjadi lebih manusiawi, terganggu atau yang memiliki integralitas manusia. Ini adalah apa yang perlu bangsa kita saat ini. Untuk mengedit dan menciptakan masa depan yang lebih baik dari sumber daya manusia. []

Posting Komentar untuk "Best Article: Character Building (Membangun Karakter) "