Pembahasan Filsafat Marxisme dan Sains Modern, Fokus Filsafat dan Agama

Filsafat

Apakah Kita Membutuhkan Filsafat?

Sebelum kita mulai, Anda mungkin terpesona buat bertanya, “Lalu, memangnya kenapa?” Memangnya perlu kita repot-repot memikirkan perkara-perkara sains & filsafat yang rumit? Terhadap pertanyaan semacam ini, ada 2 kemungkinan jawaban. Jika yang dimaksudkan dengan pertanyaan itu adalah: apakah kita perlu memahami mengenai hal-hal itu agar dapat meneruskan hidup kita sehari-hari, tentu jawabannya merupakan tidak. Tapi, jika kita ingin menerima satu pemahaman rasional tentang dunia yang kita diami ini, & proses-proses dasar yg bekerja di alam, warga  dan cara kita untuk memandangnya, maka persoalannya akan jadi lain.

Baca juga


Aneh sebetulnya, tapi setiap orang sebenarnya memiliki “filsafat”-nya masing-masing. Sebuah filsafat merupakan cara untuk memandang global. Kita seluruh yakin bahwa kita tahu bagaimana membedakan yang keliru menurut yang benar, yang baik berdasarkan yang tidak baik. Hal-hal inilah yg sebenarnya adalah hal-hal rumit yg sudah menyita pemikiran berdasarkan para pemikir terbesar pada global sepanjang sejarah. Ketika kita dihadapkan dengan kabar yang mengerikan akan hadirnya kejadian-peristiwa seperti perang saudara di Yugoslavia[1], kemunculan kembali pengangguran massal, pembantaian di Rwanda[2], poly orang akan mengakui bahwa mereka tidak tahu hal-hal ini, dan seringkali mereka dengan kurang jelas memakai rujukan “watak insan”. Tapi apa watak manusia yg misterius ini, yg dipandang sebagai asal menurut segala kejahatan & pungkasnya tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman? Ini adalah pertanyaan filsafat yg mendasar, pertanyaan yang hanya sedikit yang berani menjawabnya. Kecuali orang-orang yang pikirannya sudah dicor dengan pemikiran religius, di mana mereka akan berkata bahwa Tuhan, pada kebijaksanaan-Nya, sudah menakdirkan kita sebagai misalnya demikian. Mengapa orang perlu menyembah satu Keberadaan yg mempermainkan ciptaan-Nya sendiri, itu adalah pertanyaan yang bukan hak kami buat menjawabnya.

Mereka yg bersikeras bahwa mereka nir menganut filsafat apapun telah jatuh ke pada kekeliruan. Alam semesta membenci kevakuman. Orang-orang yang nir memiliki sebuah filsafat yang tersusun secara koherenniscaya akan otomatis sebagai cermin berdasarkan inspirasi-wangsit dan prasangka yg berlaku pada masyarakat dan jaman di mana mereka hayati. Hal ini berarti, pada konteks eksklusif, bahwa ketua mereka akan penuh menggunakan ide-wangsit yg dicekokkan melalui koran, televisi, mimbar khotbah & ruang-ruang kelas, semua yg secara setia merupakan cerminan berdasarkan kepentingan dan moralitas menurut sistem kemasyarakatan yang sedang berlaku.

Kebanyakan orang umumnya berhasil berkayuh melalui lumpur kehidupan, sampai terjadi satu benturan besar  yang memaksa mereka buat meninjau pulang segala inspirasi dan nilai yg telah menyertai mereka selama itu. Krisis rakyat memaksa mereka buat mempertanyakan poly hal yg selama itu mereka anggap masuk akal. Pada masa-masa semacam itu, ide-ide yang kelihatannya jauh di awang-awang tiba-tiba sebagai sangat relevan. Semua orang yg ingin tahu kehidupan, bukan sekedar sebagai serangkaian kebetulan yg tak bermakna atau rutinitasyang tidak berarti, harus menggeluti filsafat, yaitu, menggunakan pemikiran yang lebih tinggi daripada perkara keberadaan sehari-hari yg mendesak. Hanya menggunakan cara inilah kita akan mengangkat diri kita ke strata pada mana kita mulai memenuhi potensi kita sebagai umat manusia yang mempunyai kesadaran, yang mau dan mampu mengendalikan nasib kita sendiri.

Secara generik dipahami bahwa apapun yang berharga pada hidup ini harus diperjuangkan. Studi filsafat, dalam dasarnya, melibatkan beberapa kesulitan, lantaran studi itu menangani hal-hal yg jauh terpisah dari dunia pengalaman sehari-hari. Bahkan kata yg digunakan menghadirkan kesulitan-kesulitan karena istilah-istilah dipakai menggunakan susunan yang tidak selalu herbi makna di mana istilah-istilah itu dipergunakan sehari-hari. Tapi, hal yg sama terjadi pula pada aneka macam bidang studi spesifik, berdasarkan psikoanalisis sampai permesinan.

Hambatan yang kedua lebih berfokus lagi. Di abad yg lalu, ketika Marx & Engels pertama menerbitkan tulisan-tulisan mereka tentang materialisme dialektik, mereka bisa mengasumsikan bahwa banyak pembaca mereka setidaknya memiliki pengalaman berteman dengan filsafat klasik, termasuk Hegel. Kini mustahil menciptakan perkiraan semacam itu. Filsafat tidak lagi menempati loka sepenting dulu, lantaran spekulasi atas alam semesta sudah digantikan sang sains. Adanya teleskop-radio & pesawat antariksa menciptakan kita nir perlu lagi mengira-nerka sifat dan cakupan menurut sistem tata mentari  kita. Bahkan rahasia kejiwaan insan kini   semakin tersingkap oleh neurobiologi dan psikologi.

Situasinya nir sebaik itu pada bidang ilmu-ilmu sosial, terutama karena gairah buat mencapai pengetahuan yg seksama sekarang sudah demikian berkurang sebagai akibatnya sains justru sebagai kendala bagi kepentingan material yg mengatur kehidupan manusia. Kemajuan-kemajuan akbar yang dicapai oleh Marx & Engels pada bidang analisis sosial & sejarah dan ekonomi nir termasuk cakupan berdasarkan kitab   ini. Cukuplah bila kami menampakan bahwa, sekalipun monoton diserang dengan ganas sejak kelahirannya, teori Marxisme tentang perkembangan sosial telah menjadi satu faktor penentu dalam perkembangan ilmu-ilmu sosial modern. Untuk bukti tentang vitalitas teori ini, cukuplah kita melihat liputan bahwa agresi kepadanya bukan hanya berlanjut, tapi malah semakin meningkat intensitasnya seiring menggunakan berjalannya waktu.

BACA JUGA

Di masa lalu, perkembangan sains, yang selalu terkait erat menggunakan perkembangan kekuatan produktif, belumlah mencapai tingkat yg relatif tinggi buat membuat orang bisa tahu global yg mereka huni. Karena ketiadaan pengetahuan yang ilmiah, atau indera-indera material untuk menggapai pengetahuan itu, mereka terpaksa menyandarkan diri dalam satu-satunya instrumen milik mereka yang bisa membantu mereka buat tahu dunia & mengendalikannya – logika insan. Perjuangan buat tahu dunia sangat dekat dengan perjuangan umat manusia buat melepaskan diri berdasarkan tingkatan kesadaran hewani, untuk menguasai kekuatan alam yg membabi-buta itu dan untuk membebaskan diri dalam makna yg sejati, bukan legalistik. Perjuangan ini adalah benang merah yang merajut semua rangkaian kesejarahan insan.

Peran Agama

assembly of the gods wood engraving ddrk95“Makhluk yg bernama Manusia itu agaknya gila. Ia nir memahami bagaimana membentuk seekor ulat sekalipun, tapi ia membangun lusinan Tuhan.” (Montaigne)

“Semua mitologi mengatasi dan mendominasi dan menciptakan kekuatan alam dalam imajinasi dan sang imajinasi; maka mitologi itu akan lenyap bersamaan dengan penguasaan sejati atas kekuatan-kekuatan alam itu.”(Marx)

Hewan tidak memiliki kepercayaan , dan di masa lalu dikatakan bahwa itulah perbedaan primer antara manusia dan “makhluk biadab”. Tapi sebenarnya itu cuma cara lain  buat mengatakan bahwa hanya insan yg memiliki pencerahan pada makna yang sepenuhnya. Di tahun-tahun terakhir, terdapatreaksi terhadap ide bahwa Manusia adalah sebuah Ciptaan yang khusus & unik. Sanggahan ini tepat, tak usah diragukan lagi, pada makna bahwa manusia ber-evolusi menurut hewan, dan dalam poly aspek, tetaplah hewani. Kita memiliki berbagai fungsi tubuh yang sama menggunakan hewan-fauna lain. Tidak hanya itu, disparitas genetika antara insan dan kera hanya 2 % saja. Ini merupakan jawaban yg tegas terhadap kekonyolan yg dikemukakan para Kreasionis.

Riset-riset terkini terhadap simpanse bonobo telah menandakan tanpa keraguan bahwa primata yang paling seperti insan itu sanggup melakukan kegiatan mental yang mirip pada beberapa aspek dengan kegiatan mental seorang anak kecil. Ini adalah bukti yg mengejutkan mengenai hubungan korelasi antara insan dan primata-primata termaju, akan tetapi kemiripannya hanya hingga pada sini saja. Sekalipun para peneliti melakukan banyak sekali usaha, simpanse-simpanse bonobo tidak pernah bisa bicara atau membangun perkakas batu yg mirip menggunakan alat-alat primitif yang dulu diciptakan nenek moyang insan. Perbedaan genetik yang 2 persen antara manusia & monyet menandai lompatan kualitatif berdasarkan hewan menuju insan. Hal ini dicapai, bukan oleh tangan seorang Pencipta, akan tetapi menurut perkembangan otak yang didorong oleh kerja-kerja fisik.

Keterampilan untuk menciptakan perkakas-perkakas batu yang paling sederhana pun menuntut sebuah tingkat kemampuan mental dan pemikiran tak berbentuk yang amat tinggi. Kemampuan buat menentukan jenis batu yg sempurna dan menolak jenis yang lain; pemilihan sudut pukulan yg sempurna buat mengukir ujung batu menjadi tajam, & penggunaan kekuatan pukulan yg sempurna agar batu itu tidak rusak – hal-hal ini adalah tindakan-tindakan yg menuntut intelektualitas yg sangat rumit. Rangkaian tindakan ini menuntut derajat perencanaan dan kemampuan memperkirakan masa depan yang nir dapati bahkan di antara primata yg paling maju sekalipun. Sekalipun demikian, penggunaan dan pembuatan perkakas-perkakas batu bukanlah hasil berdasarkan perencanaan yg sadar, tapi adalah sesuatu yg terpaksa dilakukanoleh nenek moyang insan oleh kebutuhan-kebutuhan yg dihadapinya. Bukan kesadaran yg menghasilkan umat manusia, melainkan desakan  kehidupan insan yang mendorong membesarnya ukuran otak, kemampuan bicara dan kebudayaan, termasuk agama.

Kebutuhan buat tahu dunia terkait erat menggunakan kebutuhan buat bertahan hayati. Makhluk-makhluk hominid pertama, yg menemukan penggunaan keping-keping batu buat memotong daging fauna yang berkulit tebal, menerima keuntungan yang sangat besar  buat bertahan hidup ketimbang makhluk-makhluk lain yg nir bisa meraih sumber protein & lemak yang luar biasa itu. Mereka yang mampu menyempurnakan perkakas-perkakas batu mereka & mampu mencari loka yang menyediakan batu-batu terbaik akan punya peluang lebih besar  buat bertahan hidup. Dengan perkembangan teknik itu, muncullah pula perkembangan logika, dan kebutuhan buat menjelaskan banyak sekali gejala alam yang mengatur hidup mereka. Selama jutaan tahun, melalui usaha coba-coba (trial and error), nenek moyang kita mulai tetapkan aneka macam hubungan antar benda-benda. Mereka mulai membuat abstraksi, yaitu, menggeneralisasi pengalaman dan praktek yang mereka temui sehari-hari.

Selama berabad-abad, pertanyaan mendasar berdasarkan filsafat merupakan interaksi antara pemikiran & keberadaan. Kebanyakan orang hidup menggunakan relatif bahagia tanpa perlu memikirkan masalah ini. Mereka berpikir dan bertindak, bicara & bekerja, tanpa secuilpun kesulitan. Lebih jauh lagi, tidak mungkin bagi mereka buat menganggap dua kegiatan dasar insan itu sebagai 2 hal yang terpisah, lantaran dalam praktek keduanya saling tergantung satu sama lain. Bahkan tindakan-tindakan yang paling sederhana, apabila kita mengabaikan tindakan-tindakan yg didorong semata oleh insting biologis, membutuhkan pemikiran. Sampai tingkat tertentu, hal ini sahih bukan hanya buat manusia tapi jua untuk fauna, seperti waktu seekor kucing bersembunyi buat menyergap oleh tikus. Akan namun, buat manusia jenis pemikiran dan perencanaan yang dimilikinya mempunyai karakter yg secara kualitatif lebih tinggi daripada segala aktivitas mental fauna lain, bahkan menurut monyet-monyet yang paling maju sekalipun.

Fakta ini terkait erat menggunakan kapasitas berpikir abstrak, yg memungkinkan manusia buat melampaui kondisi-syarat mendesak yang dialaminya melalui alat-inderanya. Kita bisa menimbang situasi, bukan hanya yang terjadi pada masa lalu (fauna jua memiliki ingatan, seperti seekor anjing yg merasa takut seketika beliau melihat sebatang tongkat) akan tetapi jua apa yang mungkin terjadi pada masa depan. Kita dapat mengantisipasi situasi yg kompleks, merencanakan, dan dengan demikian menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya. Termasuk, sampai titik eksklusif, menentukan nasib kita sendiri. Sekalipun kita nir umumnya berpikir tentang hal ini, sebenarnya ini adalah satu penaklukan mahabesar yang membedakan insan menurut makhluk lainnya. “Apa yang khas menurut cara berpikir manusia,” ujar Profesor Gordon Childe, “adalah cara berpikir insan bisa menjelajah jauh melebihi situasi yang sedang dihadapinya, lebih jauh daripada akal hewan manapun.”[3] Dari kemampuan ini, lahirlah banyak sekali peradaban, kebudayaan, kesenian, musik, literatur, ilmu pengetahuan, filsafat & kepercayaan . Kita juga menganggap wajar bahwa seluruh itu tidak jatuh dari langit, melainkan hasil dari perkembangan selama jutaan tahun.

AnaxagorasFilsuf Yunani, Anaxagoras (500-428 SM), pada sebuah konklusi yang gemilang, menyatakan bahwa perkembangan mental insan tergantung berdasarkan terbebaskannya tangan. Dalam artikelnya yg krusial, The Part Played by Labour in the Transition from Ape to Man, Engels menyebutkan dengan rinci transisi ini. Ia membuktikan bahwa posisi badan yang berdiri tegak, yang lantas membebaskan tangan buat kerja-kerja, bentuk tangan manusia, menggunakan posisi bunda jari yang berseberangan menggunakan jari lainnya, yg memungkinkan tangan manusia menggenggam dengan erat, merupakan prasyarat fisiologi buat pembuatan perkakas. Pembuatan perkakas ini, pada gilirannya, merupakan perangsang utama buat perkembangan otak manusia. Kemampuan berbicara itu sendiri, yang nir terpisahkan dari pemikiran, muncul berdasarkan kebutuhan buat produksi sosial, kebutuhan buat menjalankan aneka macam fungsi kerja sama yg rumit. Teori-teori Engels ini sudah dibuktikan secara mencolok sang inovasi-penemuan terbaru dalam bidang paleontologi, yg menunjukkan bahwa monyet-monyet hominid timbul pada Afrika jauh lebih dahulu dari apa yg diperkirakan sebelumnya, & mereka mempunyai otak yang jauh lebih kecil daripada monyet terbaru. Maka bisa dikatakan bahwa perkembangan otak timbul selesainya dihasilkannya perkakas-perkakas batu, dan adalah hasil berdasarkan proses penciptaan perkakas-perkakas itu. Jadi, tidaklah sahih bahwa “Pada awalnya merupakan Sabda,” tapi misalnya yang dikemukakan oleh penyair Jerman, Goethe - “Pada awalnya adalah Kerja.”

Kemampuan buat bergelut dengan pemikiran tak berbentuk terkait erat menggunakan bahasa. Sejarawan ternama Gordon Childe menyatakan:

“Nalar, & segala yg kita sebut berpikir, termasuk proses berpikir seekor simpanse, harus melibatkansebuah operasi mental menggunakan apa yang diklaim oleh para psikolog menjadi gambaran. Satu citra visual, satu citra mental berdasarkan, katakanlah, sebuah pisang, selalu adalah gambaran sebuah pisang eksklusif yang berada pada sebuah lingkungan tertentu. Sebuah kata, misalnya yg sudah dijelaskan, adalah lebih umum dan abstrak, setelah menyingkirkan syarat-syarat aksidental yang membedakan satu pisang dengan pisang yang lain. Gambaran mental berdasarkan istilah-kata (citra berdasarkan suara atau gerakan otot yang diperlukan buat mengutarakannya) membentuk satu tanggapan yang merangsang proses berpikir. Berpikir menggunakan bantuan istilah-istilah, menggunakan demikian, mengandung persis kualitas abstraksi & generalisasi yang tidak dimiliki oleh proses berpikir fauna. Manusia bisa berpikir, & pula bicara, mengenai kelas benda-benda yang dikenal sebagai 'pisang'; simpanse nir pernah bisa berpikir lebih jauh menurut 'pisang pada dalam kantung yg itu'. Dengan cara ini, indera sosial yg dinamakan bahasa berperan dan pada apa yg secara bombastis digambarkan menjadi 'emansipasi umat manusia dari keterikatan menuju kekonkretan'.”[4]

Manusia-manusia pertama, selesainya jangka saat yg panjang, membentuk pandangan baru generik mengenai, katakanlah, sebatang tanaman  atau seekor fauna. Ide ini tumbuh menurut pengamatan nyata terhadap aneka macam tanaman  atau hewan. Tapi waktu kita datang pada konsep generik “tanaman ”, kita nir lagi melihat pada hadapan kita tanaman  ini atau itu secara spesifik, tapi apa yg jamak menjadi sifat generik pada antara mereka. Kita menyerap makna hakikat tanaman , keberadaannya yg paling mendasar. Jika dibandingkan menggunakan hakikat ini, karakteristik-ciri spesifik dari tanaman  eksklusif tampak sekunder dan tidak stabil. Apa yg selalu tetap dan universal terkandung dalam pandangan umum mengenai flora. Kita tidak akan pernah melihat “tanaman ” seperti gambaran tertentu, misalnya waktu kita menyebut satu jenis tanaman  atau semak eksklusif. Konsepitu merupakan abstraksi yang dilakukan oleh logika manusia. Namun demikian, abstraksi itu justru merupakan pernyataan yang lebih pada dan lebih sejati tentang apa yang hakiki pada dalam sifat tumbuhan sesudah sifat-sifat yg sekunder dilucuti daripadanya.

BACA JUGA

Walau demikian, abstraksi menurut insan-manusia awal masih jauh menurut watak-tabiat ilmiah. Abstraksi itu adalah penjelajahan yg belum pasti sifatnya, seperti kesan yang didapat anak-anak mini   – yakni bersifat terkaan dan hipotesis, yg kadang galat, akan tetapi selalu berani & imajinatif. Bagi nenek moyang kita tempo dulu, mentari  merupakan satu makhluk agung yang kadang menghangatkan mereka, kadang membakar mereka. Bumi adalah seseorang super besar yg sedang tidur. Api merupakan hewan buas yang menggigit mereka ketika mereka menyentuhnya. Manusia-manusia pertama mengamati kilat dan guntur. Kedua hal itu pasti seram bagi mereka, misalnya ketakutan yg masih dialami baik oleh hewan atau manusia sampai kini  . Tapi, nir seperti fauna, insan mencari satu penerangan umum atas gejala-gejala itu. Lantaran mereka tidak memiliki pengetahuan ilmiah, penerangan itu pasti akan berupa penjelasan yang supernatural – yang kuasa-dewa eksklusif, yg menghantam landasan tempa dengan palu godamnya. Bagi kita, penerangan itu kelihatannya lucu, misalnya penerangan naif yang diberikan oleh anak-anak mini  . Walau demikian, pada masa itu, penerangan-penerangan itu merupakan hipotesis yg sangat krusial – satu upaya buat menemukan sebab rasional menurut fenomena yg diamatinya. Penting untuk manusia agar dapat membedakan antara aneka macam pengalaman hidup yg dihadapinya, & melihat sesuatu yg berdiri di luar pengalaman-pengalaman itu.

Bentuk yg paling berciri dari agama-kepercayaan  pertama merupakan animisme – pandangan bahwa segala hal, yang hayati maupun yg nir hayati, memiliki roh. Kita melihat reaksi yg sama menurut seseorang anak kecil waktu beliau, sehabis terbentur dalam sebuah meja, memukul meja itu. Dengan cara yg sama, manusia-manusia pertama, & juga beberapa suku eksklusif sampai kini  , akan memohon maaf pada pohon-pohon sebelum mereka menebangnya. Animisme berjaya dalam satu masa waktu manusia masih belum terpisah jauh berdasarkan global hewan & alam secara generik. Kedekatan manusia dalam global fauna dibuktikan oleh kesegaran dan estetika berdasarkan gambar-gambar gua, pada mana kuda, kijang dan bison digambarkan menggunakan satu kealamian yang nir akan pernah lagi bisa diguratkan oleh seniman-seniman terkini. Masa itu adalah masa kecil berdasarkan peradaban manusia, yang sudah pulang dan tidak akan pulang. Kita hanya dapat membayangkan psikologi dari nenek moyang jauh kita itu. Tapi, menggunakan menggabungkan penemuan-inovasi paleontologi menggunakan antropologi, dimungkinkan bagi kita untuk merekonstruksi, setidaknya secara garis besar , dunia yg telah memunculkan peradaban umat manusia itu.

Dalam studi antropologi klasiknya mengenai dari-usul sihir dan kepercayaan , Sir James Frazer menulis:

“Seorang barbar hampir sama sekali nir menciptakan pembedaan yang umumnya dibentuk oleh orang-orang yg lebih maju antara apa yg natural & yang supernatural. Baginya, global ini secara generik digerakkan oleh unsur-unsur supernatural, yaitu, oleh makhluk-makhluk yg digambarkan mirip insan, yang bekerja menggunakan dorongan impuls dan motif misalnya yang dimilikinya, misalnya dirinya juga tergerak sang belas kasihan dan permohonan-permohonan, asa dan juga ketakutan. Dalam sebuah dunia yg digambarkan misalnya itu, ia nir melihat batasan bagi kekuatan ini buat mensugesti jalannya alam bagi keuntungannya sendiri. Doa-doa, janji-janji, atau ancaman-ancaman dapat menjaminkan baginya cuaca yang baik dan panen yg melimpah menjadi berkat dewata; dan apabila tuhan-yang kuasa sampai menitis ke dalam dirinya, misalnya yg kadang dianggap demikian, maka beliau nir lagi perlu memohon dalam sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya; ia, orang tidak beradab itu, memiliki pada dalam dirinya seluruh kekuatan yg dibutuhkan buat memajukan kesejahteraannya sendiri juga bagi sesamanya.”[5]

Pandangan bahwa jiwa hadir terpisah dan tersendiri menurut tubuh diwariskan dari masa paling lampau dari jaman kebiadaban. Basis buat pandangan itu sangatlah jelas. Ketika kita tidur, jiwa nampak meninggalkan tubuh & mengembara pada dalam mimpi. Jika pandangan ini dikembangkan lebih jauh, kemiripan antara kematian dan tidur (“saudara kembar menurut Kematian”, seperti kata Shakespeare) mengakibatkan inspirasi bahwa jiwa akan terus hadir sehabis kematian. Maka manusia-manusia pertama menyimpulkan bahwa masih ada sesuatu pada pada tubuh yg terpisah menurut tubuh itu sendiri. Inilah jiwa, yg menguasai tubuh, dan dapat melakukan segala macam hal yg luar biasa, bahkan saat tubuh sedang tertidur. Mereka juga mengamati bagaimana sabda-sabda kebijaksanaan diucapkan oleh para tetua, dan menyimpulkan bahwa, sekalipun tubuh mangkat , jiwa akan terus hidup. Bagi orang-orang yg terbiasa menggunakan ilham-inspirasi tentang migrasi, kematian dicermati sebagai migrasi jiwa, yang membutuhkan kuliner & alat-alat lain buat perjalanannya.

Pada awalnya, roh nir mempunyai kediaman tertentu. Mereka hanya mengembara, umumnya menciptakan kekacauan, yang memaksa seluruh yang hidup buat menempuh aneka macam kesulitan buat menenangkan roh-roh itu. Di sini kita mendapati asal-usul upacara-upacara keagamaan. Pada akhirnya, muncullah satu pandangan baru bahwa kita bisa memohon juga donasi menurut para roh melalui doa-doa. Pada strata ini, kepercayaan  (sihir), seni dan ilmu tidak dibedakan satu sama lain. Karena mereka nir memiliki indera untuk sahih-benar mengendalikan lingkungan mereka, insan-insan pertama mencoba menundukkan lingkungan itu melalui penyatuan sihir menggunakan alam. Sikap insan-manusia pertama terhadap tuhan-ilahi dan pemujaan-pemujaan sangat praktis. Doa-doa ditujukan buat mendapatkan hasil. Seseorang akan menciptakan gambar menggunakan tangannya lalu berlutut menyembah gambar itu. Tapi apabila tindakan itu tidak membawa output beliau akan mengutuk gambar itu & menginjak-injaknya. Jika permohonan nir membawa hasil dia akan memakai kekerasan. Dalam dunia aneh yg penuh menggunakan hantu & mimpi ini, global agamawi ini, pemikiran-pemikiran primitif melihat segala insiden sebagai karya berdasarkan roh yg tidak kasat mata. Tiap semak & genre sungai dipandang menjadi makhluk yang hayati, yang bersahabat atau bermusuhan. Tiap kejadian, tiap mimpi, rasa sakit atau sensasi, ditimbulkan oleh roh. Penjelasan religius mengisi kekosongan yg disebabkan tiadanya penerangan yang ilmiah mengenai aturan-hukum alam. Bahkan kematian tidak dipandang menjadi satu kejadian yg alami, melainkan sebagai satu akibat dari pelanggaran-pelanggaran eksklusif terhadap perintah dewata.

Selama sebagian besar  masa eksistensi umat insan, pikiran insan terisi penuh dengan hal-hal semacam ini. Dan bukan hanya pada pada apa yang dipercaya orang menjadi warga  primitif. Jenis takhayul yg sama terus hadir dalam kedok yang agak tidak sinkron waktu ini. Di bawah tabir tipis peradaban merunduklah satu kecenderungan & wangsit-ilham irasional primitif yang memiliki akar jauh pada masa kemudian, masa-masa yg sudah lama   terlupakan akan tetapi belum sepenuhnya ditinggalkan. Dan jua nir akan sepenuhnya dapat ditinggalkan selama umat manusia masih belum berhasil menegakkan kendali sepenuhnya atas syarat kehidupannya sendiri.

Pembagian Kerja

Frazer menampakan bahwa pembagian antara kerja-kerja fisik & mental dalam warga  primitif, mau nir mau, terkait pada pembentukan kasta pendeta, shaman (dukun) atau tukang sihir.

“Kemajuan sosial, seperti yang kita tahu, terutama terdiri dari berbagai diferensiasi fungsi yg terjadi berturutan, atau, dalam bahasa yang lebih sederhana, pembagian kerja. Kerja-kerja yang dalam warga  primitif dikerjakan sang semua orang tanpa kecuali, termasuk oleh orang-orang yg nir sanggup mengerjakan pekerjaan itu, semakin hari semakin dibagi ke dalam berbagai kelas pekerja dan dikerjakan menggunakan semakin sempurna; selama hasil kerja terspesialisasi itu, baik yg material atau imaterial, dimiliki beserta oleh seluruh orang, holistik warga  masih akan terus menerima laba yang semakin tinggi sejalan dengan meningkatnya spesialisasi. Para tukang sihir & dukun kelihatannya tampaknya adalah kelas artifisial atau profesional pertama dalam evolusi warga . Karena para tukang sihir itu ditemui di banyak sekali suku primitif yg masih kita kenal ketika ini; & di antara rakyat yg paling primitif, seperti suku Aborigin Australia, merekalah satu-satunya kelas profesional yang terdapat.”[6]

Dualisme yg memisahkan jiwa berdasarkan tubuh, logika berdasarkan materi, pikiran dari perbuatan, mendapat impuls yg maha kuat berdasarkan perkembangan pembagian kerja dalam termin eksklusif dari evolusi sosial. Pemisahan antara kerja-kerja fisik & mental merupakan sebuah kenyataan yang terjadi berbarengan menggunakan pembagian warga  ke pada kelas-kelas. Hal itu menandai kemajuan besar  pada perkembangan umat manusia. Untuk pertama kalinya sekelompok mini   orang pada rakyat terbebaskan berdasarkan keharusan buat bekerja buat memperoleh apa-apa yg dibutuhkannya buat bertahan hayati. Kepemilikan berdasarkan komoditas yg paling mahal harganya itu –yakni ketika luang – berarti bahwa sejumlah manusia dapat mengabdikan hidupnya untuk mengusut bintang-bintang. Seperti yg diterangkan sang Ludwig Feuerbach[7], filsuf materialis Jerman itu, ilmu pengetahuan teoritik dimulai menggunakan astrologi:

“Hewan hanya dapat memahami berkas-berkas sinar yg eksklusif mensugesti kehidupannya; sementara insan memberi tanggapan terhadap berkas-berkas sinar, yg sebenarnya nir tidak selaras satu sama lain secara fisik, yang datang menurut bintang-bintang. Hanya Manusia yang mempunyai kegembiraan & gairah yang murni intelektual & tanpa kepentingan; hanya mata insan yg dapat menangkap festival-festival teoritik. Mata yg menjelajah langit berbintang, yang menatap sinar menurut mereka, yg nir mengandung kegunaan maupun bahaya, yg sama sekali tidak ada hubungannya dengan segala yang pada bumi dan apa yg diperlukan pada sini – mata ini melihat dalam berkas-berkas sinar itu karakternya sendiri, dari-usulnya sendiri. Mata itu dari sifat dasarnya terikat dalam langit. Dengan demikian manusia mengangkat dirinya terbang di atas bumi hanya dengan menggunakan matanya; dengan demikian teori dimulai menggunakan perenungan atas langit. Para filsuf yang pertama merupakan para pakar perbintangan.”[8]

BACA JUGA

Sekalipun pada tahap awalnya ini teori masih tercampur aduk rata dengan agama, dan terikat oleh kebutuhan dan kepentingan berdasarkan kasta rahib, perkembangan ini pula menandai kelahiran peradaban manusia. Hal ini sudah disadari sang Aristoteles, yg menulis:

“Seni-seni teoritik ini, lebih jauh lagi, dikembangkan di loka-loka pada mana insan memiliki banyak ketika luang: matematika, misalnya, berasal dari Mesir, pada mana satu kasta pendeta menikmati waktu luang yg diharapkan untuk mengembangkannya.”[9]

Pengetahuan merupakan sumber kekuasaan. Di warga  manapun di mana seni, ilmu pengetahuan & pemerintahan dimonopoli oleh segelintir orang, kaum minoritas itu akan terus memakai dan menyalahgunakan kekuasaan pada tangannya itu demi kepentingannya sendiri. Meluapnya sungai Nil adalah duduk perkara hidup-tewas bagi banyak orang, yang output panennya bergantung menurut tingkat luapan sungai itu. Kemampuan para pendeta Mesir buat meramalkan, berdasarkan pengamatan atas bintang-bintang, kapan sungai Nil akan meluap niscaya sudah mengangkat tinggi martabat & kekuasaan yg mereka rasakan pada dalam warga . Seni menulis, penemuan yg paling dahsyat itu, merupakan satu rahasia yg dijaga maha ketat oleh kasta pendeta. Seperti yang sebagai komentar Ilya Prigogine dan Isabelle Stenger:

“Orang-orang Sumeria menemukan seni menulis; para pendeta Sumeria berspekulasi bahwa masa depan mungkin tertulis secara rahasia dalam insiden-peristiwa masa kini  . Mereka bahkan menyusun secara sistematis agama mereka itu, mencampurelemen-elemen magis & rasional.”[10]

Perkembangan lebih jauh berdasarkan pembagian kerja menyebabkan jurang yg tidak terseberangi antara kaum elit intelektual dan mayoritas umat insan, yg dikutuk buat bekerja sepanjang hayati dengan ke 2 tangannya. Kaum intelektual, baik para rahib Babilonia juga para ahli ekamatra teori di jaman terkini ini, hanya mengenal satu jenis pekerjaan, kerja mental. Setelah melalui puluhan milenia, superioritas kerja mental atas kerja fisik yang “kasar” menjadi semakin terukir & akhirnya menciptakan semacam kekuatan berpretensi. Bahasa, istilah-istilah dan pemikiran akhirnya memperoleh berkah kekuatan mistis. Kebudayaan menjadi monopoli menurut kaum elit yg teristimewakan, yg menggunakan maha ketat menjaga rahasia mereka, dan menggunakan & menyalahgunakan posisi mereka demi kepentingan mereka sendiri.

Di jaman kuno, kaum aristokrasi intelektual nir berupaya buat menyembunyikan kejijikan mereka akan kerja-kerja fisik. Kutipan berikut dari dari teks Mesir yg dikenal menjadi The Satire on the Traders(Satire tentang Pedagang), yg ditulis kurang lebih tahun 2000 SM dan diperkirakan berisi petuah  menurut seorang ayah pada anaknya, yg beliau kirim ke Sekolah Menulis buat berlatih menjadi seseorang juru tulis:

“Saya telah melihat bagaimana seseorang pekerja kasar melakukan kerja kasar– engkau  wajib  mengeraskan hati kamu dalam mempelajari goresan pena. Dan aku  telah mengamati bagaimana seorang bisa menghindari pekerjaannya [sic!] – lihatlah, nir sesuatupun yang dapat melebihi tulisan....

“Saya sudah melihat bagaimana seorang pintar besi bekerja di depan verbal tungku apinya. Jari-jarinya menjadi seperti jari-jari buaya; bau tubuhnya melebihi bau seekor ikan busuk....

“Seorang kuli pembangun tempat tinggal   mengusung lumpur.... Ia lebih kotor dari seseorang gelandangan atau babi lantaran beliau mengarungi lumpur. Bajunya kaku karena dilumuri tanah liat....

“Para pembuat anak panah, kasihan sekali nasibnya ketika beliau wajib  berjalan mengarungi padang pasir [untuk mencari batu-batu tajam]. Lebih agung apa yg beliau berikan dalam keledainya daripada apa yang sehabis itu dikerjakannya ...

“Para pencuci pakaian mencuci pada tepi sungai, bertetangga menggunakan buaya....

“Lihatlah, nir terdapat pekerjaan yang tidak mempunyai majikan – kecuali para juru tulis: dia adalah majikan....

“Lihatlah, nir ada juru tulis yg kekurangan makan dari harta Istana Para Raja – kehidupan, kemakmuran, kesehatan! ... Ayah & ibunya memuja para yang kuasa, dia dibebaskan berdasarkan keharusan mencari penghidupan. Lihatlah hal-hal ini – saya [telah menguraikannya] pada hadapanmu dan anak cucumu.”[11]

Sikap yg sama berkembang juga di tengah orang-orang Yunani, seperti yg ditulis oleh Xenophon:

“Apa yg disebut seni mekanik menanggung sebuah stigma sosial yang patut dicela pada tengah kota-kota kita, karena seni semacam ini Mengganggu tubuh mereka yang bekerja pada dalamnya atau yang bekerja menjadi mandornya, lantaran kerja-kerja ini mengutuk mereka ke pada hayati yang malas dan terkungkung &, kadang-kadang menghabiskan seluruh hari di depan tungku-tungku api. Pembusukan fisik itu membuat jua pembusukan jiwa. Lebih jauh lagi, para pekerja dalam bidang-bidang ini nir akan pernah mempunyai saat buat menjalankan kerja-kerja pemerintahan atau perkawanan. Sebagai akibatnya mereka dilihat sebagai mitra yang jelek atau masyarakat negara yg jelek, dan pada beberapa kota, terutama yg gemar berperang, adalah hal yang ilegal bagi seseorang masyarakat negara buat terlibat pada kerja-kerja mekanik.”[12]

Perceraian radikal antara kerja-kerja mental & fisik memperdalam ilusi bahwa pandangan baru, pemikiran dan kata-istilah mempunyai keberadaan yang mandiri. Pandangan yang galat ini terpancang pada jantung semua agama dan filsafat idealisme.

Bukanlah ilahi yang menciptakan manusia sinkron dengan citranya, akan tetapi, sebaliknya, manusialah yang membangun tuhan-yang kuasa sesuai dengan gambaran & harapan mereka. Ludwig Feuerbach pernah menyampaikan bahwa bila burung memiliki kepercayaan , Tuhan mereka akan bersayap. “Agama merupakan sebuah mimpi, di mana pandangan & emosi kita muncul di hadapan kita menjadi satu keberadaan yg mandiri, yg hadir di luar diri kita. Pemikiran religius tidaklah membedakan mana yang subjektif, mana yang objektif – pemikiran itu nir mempunyai keraguan; beliau memiliki berkah, bukan pada kemampuan memahami hal-hal lain pada luar dirinya, akan tetapi pada melihat dirinya sesuai pandangannya sendiri sebagai satu keberadaan yg khusus & istimewa.”[13] Hal ini pula dipahami oleh orang-orang semacam Xenophanes berdasarkan Colophon (565-c.470 SM), yang menulis “Homer & Hesiod sudah membebankan dalam para ilahi setiap tindakan yg malu dan nir terhormat di kalangan manusia: pencurian & perzinaan dan penipuan satu pada antara yg lain... Orang-orang Etiopia membuat ilahi-yang kuasa mereka berkulit hitam dan berhidung pesek, & orang-orang Thracia menciptakan tuhan-tuhan mereka bermata pucat dan berambut merah.... Jika fauna bisa melukis dan membangun benda-benda, kuda-kuda dan sapi-sapi juga akan menciptakan dewa-ilahi mereka sesuai dengan gambaran mereka sendiri.”[14]

Mitos tentang Penciptaan yg ada pada hampir setiap agama selalu mengambil kisahnya berdasarkan kehidupan sehari-hari, contohnya, citra seorang tukang keramik yang “menghidupkan” seonggok tanah liat tidak berbentuk. Menurut pendapat Gordon Childe, kisah Penciptaan dalam buku pertama Kejadian mencerminkan warta bahwa, di Mesopotamia daratan memang terpisah dari lautan “dalam Awal Jaman,” tapi bukan lantaran intervensi ilahi:

“Daratan pada mana kota-kota Babilonia yg agung itu didirikan telah secara harfiah diciptakan; pendahulu prasejarah dari kota Erech yang tercantum pada kitab  -kitab   suci didirikan di atas semacam platform dari jerami, yg disusun silang-menyilang di atas gundukan lumpur aluvial. Buku Kejadian kaum Yahudi telah mengakrabkan kita menggunakan tradisi yg jauh lebih tua berdasarkan syarat alami orang-orang Sumeria – satu keadaan 'chaos' di mana batas antara air dan tanah kemarau masih terus maju-mundur. Satu peristiwa yg esensial pada “Penciptaan” adalah pemisahan menurut unsur-unsur ini. Walau demikian, bukanlah para ilahi, melainkan orang-orang Sumeria sendirilah yang membangun daratan; mereka menggali saluran-saluran buat mengairi ladang & mengeringkan rawa; mereka menciptakan parit-parit dan gundukan-gundukan buat melindungi manusia dan ternak menurut air dan menghindari banjir; mereka membuka rawa-rawa ganggang dan menjelajah daratan di antara rawa-rawa itu. Kemampuan bertahan yg membuat ingatan akan perjuangan ini terus hidup pada tradisi Sumeria adalah satu ukuran akan beratnya perjuangan yg dihadapi sang orang-orang Sumeria kuno. Imbalan bagi mereka merupakan satu agunan akan pasokan bahan makanan bergizi, panen yg melimpah dari ladang yg sudah mereka keringkan, & ladang penggembalaan yang subur bagi ternak dan piaraan mereka.”[15]

Upaya pertama Manusia buat menyebutkan dunia ini dan posisinya di dalamnya bercampur campurkan dan kocok dengan mitologi. Orang-orang Babilonia percaya bahwa tuhan Marduk menciptakan Keteraturan menurut Kekacauan, memisahkan daratan menurut air, langit menurut bumi. Mitos Penciptaan Alkitab ini diambil sang orang Yahudi dari orang Babilonia, & di kemudian hari diambil sang orang Kristen. Sejarah pemikiran ilmiah yang sesungguhnya dimulai saat insan mulai menyingkirkan mitologi, dan mencoba buat memperoleh satu pemahaman yg rasional atas alam, tanpa campur tangan ilahi-ilahi. Baru sesudah itulah, usaha yang sesungguhnya buat membebaskan umat insan dari belenggu-belenggu material dan spiritual dapat dimulai.

Munculnya filsafat merepresentasikan sebuah revolusi sejati pada pemikiran insan. Seperti kebanyakan peradaban modern, kita berhutang budi pada orang-orang Yunani kuno untuk hal itu. Walaupun kemajuan-kemajuan akbar dicapai pula oleh orang-orang India dan Tiongkok, dan pula lalu orang-orang Arab, orang-orang Yunanilah yang mengembangkan filsafat & ilmu pengetahuan hingga tingkatan yang tertinggi sebelum Renaisans (Jaman Pencerahan). Sejarah pemikiran Yunani pada masa empat ratus tahun, sejak pertengahan abad ke-7 SM, adalah keliru satu bab terpenting pada kitab   sejarah umat insan.

Materialisme dan Idealisme

Seluruh sejarah filsafat berdasarkan jaman Yunani hingga hari ini tersusun atas pergulatan antara 2 genre pemikiran yg persis berseberangan – materialisme dan idealisme. Di sini kita mendapati satu model yg paripurna tentang bagaimana kedua kata yang dipergunakan dalam filsafat ini berbeda makna secara hakiki dengan maknanya yang dipergunakan sehari-hari.

Ketika kita merujuk seseorang sebagai “idealis”, kita umumnya berpikir mengenai seorang yg memiliki ideal-ideal yang tinggi dan moralitas yang tak bercacat. Seorang materialis, kebalikannya, dipandang sebagai seorang yang tidak punya prinsip, seseorang pengeruk uang, seseorang individualis yg hanya memikirkan diri sendiri, menggunakan nafsu serakah buat kuliner & benda-benda duniawi lain – pendeknya, karakter yg sahih-benar tidak disukai.

Kedua pemaknaan ini sama sekali nir ada hubungannya dengan materialisme & idealisme di dunia filsafat. Dalam makna filosofis, idealisme memiliki akar dari pandangan bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide, pikiran, roh atau, lebih tepatnya Ide, yang hadir sebelum segala dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera kita, menurut genre idealisme, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yg sempurna itu. Para pendukung filsafat ini yang paling konsisten sepanjang sejarah kuno merupakan Plato. Walau demikian, dia bukan pencipta idealisme, yg sudah lahir sebelum jamannya.

Para pengikut Pitagoras percaya bahwa hakikat menurut segala hal adalah Angka (satu pandangan yg agaknya dimiliki juga sang beberapa pakar matematika terkini). Para Pythagorean ini memandang rendah global material secara generik & tubuh manusia secara spesifik, yang mereka pandang menjadi penjara pada mana jiwa terperangkap. Pandangan ini memiliki kemiripan yang mengejutkan menggunakan pandangan-pandangan para biarawan abad pertengahan. Benar, mungkin saja bahwa Gereja mengambil banyak wangsit mereka berdasarkan kaum Pythagorean, Platonis & Neo-Platonis. Hal ini tidaklah mengejutkan. Semua kepercayaan  niscaya berakar dari pandangan idealis terhadap global. Perbedaannya merupakan bahwa agama mensugesti emosi, & mengaku menyediakan satu pemahaman yang mistis dan intuitif terhadap dunia (“Penglihatan”), ad interim kebanyakan filsuf idealis berupaya menyajikan satu argumen yg logis buat teori-teori mereka.

BACA JUGA

Pada dasarnya, bagaimanapun juga, akar dari segala bentuk idealisme merupakan religius dan mistis. Kejijikan terhadap “global material kasar” dan pengangkatan “Ide” ke posisi yang tinggi mengalir pribadi menurut fenomena yang sudah kita lihat pada hubungannya menggunakan agama. Bukanlah sebuah kebetulan apabila idealisme Plato berkembang di Athena saat sistem perbudakan sedang berada dalam puncak  kejayaannya. Kerja-kerja fisik, dalam ketika itu, dilihat secara harfiah sebagai sebuah penanda perbudakan. Satu-satunya kerja yg bisa dihargai merupakan kerja-kerja intelektual. Secara hakiki, filsafat idealisme adalah satu produk menurut pembedaan yang ekstrem antara kerja-kerja fisik & mental yang sudah hadir menurut sejak menyingsingnya fajar sejarah sampai hari ini.

Sejarah filsafat Barat, walau demikian, nir dimulai menggunakan idealisme melainkan menggunakan materialisme. Filsafat ini menerangkan pada kita persis kebalikan dari idealisme: bahwa global material, yang kita kenal dan jelajahi melalui ilmu sains, konkret adanya; bahwa satu-satunya global yang nyata merupakan global material; bahwa pikiran, ilham, & perasaan adalah hasil berdasarkan materi yang terorganisir dalam cara tertentu (sistem syaraf dan otak); bahwa pikiran nir bisa hadir dari dirinya sendiri, akan tetapi hanya bisa muncul menurut dunia objektif yg menyatakan dirinya pada kita melalui alat-alat indera kita.

Para filsuf Yunani yang paling awal dikenal sebagai “hylozois” (berdasarkan bahasa Yunani, yg berarti “mereka yg percaya bahwa materi itu hayati”). Di sini kita mendapati sederetan panjang pahlawan-pahlawan yang memelopori perkembangan pemikiran. Orang-orang Yunani menemukan bahwa global itu bundar , jauh sebelum Columbus. Mereka menunjukkan bahwa insan berevolusi menurut ikan jauh sebelum Darwin. Mereka menciptakan penemuan-inovasi luar biasa dalam bidang matematika, yg tak diubah banyak selama satu 1/2 milenia. Mereka menemukan mekanika dan bahkan menciptakan satu mesin uap. Hal baru yang mengejutkan pada cara memandang dunia ini adalah bahwa cara itu tidaklah religius. Berseberangan absolut dengan orang-orang Mesir dan Babilonia, dari mana mereka poly belajar, orang-orang Yunani tidaklah menyerahkan penjelasan atas gejala alam kepada para tuhan dan dewi. Untuk pertama kalinya, insan mencoba menerangkanbagaimana alam bekerja murni menggunakan menilik alam itu sendiri. Ini merupakan satu berdasarkan titik kembali terbesar pada seluruh sejarah perkembangan pemikiran manusia. Sains yang sejati bermula di sini.

Aristoteles, yg terbesar dari semua filsuf jaman antik, bisa dipercaya seseorang materialis, sekalipun ia tidaklah sekonsisten para hylozois pertama. Ia menciptakan serangkaian inovasi ilmiah yang merupakan basis bagi pencapaian-pencapaian besar  sepanjang masa-masa Alexander.

Abad pertengahan yg menyusul runtuhnya Jaman Kuno merupakan satu padang tandus pada mana pemikiran ilmiah mandekselama berabad-abad. Bukan satu kebetulan bahwa masa ini didominasi sang Gereja. Idealisme adalah satu-satunya filsafat yg diperbolehkan, apakah itu dalam bentuk karikatur Platonis atau bahkan, lebih jelek lagi, defleksi atas filsafat Aristoteles.

Sains timbul kembali dengan jaya pada masa Jaman Pencerahan atau Renaisans. Di sana ia dipaksa buat melancarkan perang yg ganas terhadap impak kepercayaan  (bukan hanya Katolik, melainkan juga Protestan). Banyak martir yang wajib  membayar harga kebebasan ilmiah menggunakan nyawanya sendiri. Giordano Bruno[16] dibakar hidup-hidup pada tiang bakaran. Galileo dua kali diadili oleh Pengadilan Inkuisisi, & dipaksa dengan siksaan buat menyangkal pandangan-pandangannya.

Kecenderungan filosofis yg dominan pada Jaman Pencerahan merupakan materialisme. Di Inggris, kesamaan ini merogoh bentuk empirisme, genre pemikiran yg menyatakan bahwa seluruh pengetahuan adalah turunan dari pengamatan indrawi. Pelopor menurut genre ini adalah Francis Bacon (1561-1626), Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran materialis berkisar berdasarkan Inggris kePrancis di mana dia menerima konten revolusioner. Di tangan Diderot, Rousseau, Holbach, & Helvetius, filsafat menjadi satu indera buat mengkritik semua tatanan masyarakat yg ada. Para pemikir akbar ini menyiapkan jalan buat penggulingan revolusioner atas monarki feodal di tahun 1789-93.

Pandangan filosofis yg baru ini merangsang perkembangan ilmu pengetahuan, mendorong dilakukannya percobaan-percobaan & pengamatan-pengamatan. Di abad ke-18 terjadilah satu kemajuan yg luar biasa dalam ilmu sains, terutama pada bidang mekanika. Tapi keterangan ini mempunyai sisi negatif, seiring menggunakan sisi positifnya. Materialisme usang pada abad ke-18 bersifat sempit & kaku, suatu cerminan menurut perkembangan ilmu pengetahuan yang masih terbatas. Newton mengekspresikan keterbatasan dariempirisme dalam kalimatnya yang terkenal, “Saya nir menciptakan hipotesis apapun.” Pandangan mekanis yang sepihak ini akhirnya terbukti fatal bagi materialisme lama  . Secara lawan asas, perkembangan terbesar dalam filsafat setelah 1700 justru dibuat sang para filsuf idealis.

Di bawah efek revolusi Prancis, filsuf idealis Jerman Immanuel Kant (1724-1804) meletakkan semua filsafat yg hadir sebelum jamannya ke bawah hujan badai kritik. Kant menciptakan inovasi-inovasi penting bukan hanya pada filsafat dan logika tapi pula dalam bidang ilmu pengetahuan. Hipotesisnya tentang asal-usul alam semesta yg diperkirakannya dari menurut kabut gas nebula (yang lalu diberi basis matematika oleh Laplace) kini   secara umum diterima sebagai kebenaran. Di bidang filsafat, adikarya Kant The Critique of Pure Reason adalah karya pertama yang menganalisa bentuk-bentuk nalar yg tidak pernah berubahsemenjak dirumuskan pertama kali sang Aristoteles. Kant memperlihatkan kontradiksi yang secara tersirat terdapat pada kebanyakan proposisi mendasar filsafat. Walau demikian, beliau gagal menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi ini (“Antinomies”), dan akhirnya menarik konklusi bahwa tidak mungkin kita mendapatkan kebenaran yg sejati tentang alam semesta. Walau kita bisa mengetahui apa yang nampak, kita tidak akan pernah memahami “benda dalam dirinya sendiri” (things in themselves).

Ide ini bukanlah sesuatu yang baru. Ide ini adalah tema yg telah berulang kali timbul pada sejarah filsafat, dan merupakan apa yg dikenal menggunakan kata idealisme subjektif. Ini dikemukakan sebelum Kant sang seseorang uskup dan filsuf menurut Irlandia dalam abad ke-18, George Berkeley, & digemakan juga sang seorang realitas klasik Inggris, David Hume. Argumen dasarnya bisa diringkaskan menjadi berikut: “Saya menginterpretasi global melalui alat saya. Dengan demikian, seluruh yg aku  memahami sahih-benar ada merupakan gambaran yang ditangkap sang alat saya. Dapatkah saya, misalnya, bersumpah bahwa sebuah apel benar-sahih ada? Tidak. Apa yg saya bisa katakan merupakan saya melihatnya, saya merasakannya, saya menciumnya, saya mengecapnya. Dengan demikian, saya nir dapat sahih-sahih menyatakan bahwa dunia material sahih-sahih ada.” Logika berdasarkan idealisme subjektif merupakan bahwa, apabila saya menutup mata saya, global ini akan menghilang. Pada ujungnya, filsafat ini akan membawa kita dalam solipsisme (menurut bahasa Latin “solo ipsus” - “saya sendiri”), ilham bahwa hanya saya sendiri yg ada, yang lain tidak ada.

Ide-ilham ini mungkin tidak masuk logika bagi kita, tapi anehnya mereka masih permanen ada. Melalui satu atau lain cara, prasangka idealisme subjektif telah merasuki bukan hanya filsafat akan tetapi jua sains pada sebagian besar  abad ke-20. Kita akan melihat kecenderungan ini lebih lanjut pada belakang.

Terobosan terbesar tiba dalam dekade pertama abad ke-19 melalui George Wilhelm Hegel (1770-1831). Hegel merupakan seseorang filsuf idealis Jerman, seorang yg kejeniusannya menjulang dengan tinggi langit, yg telah meringkas dalam goresan pena-tulisannya semua kesejarahan filsafat.

BACA JUGA

Hegel menerangkan bahwa satu-satunya cara buat mengatasi “Antinomi” Kant adalah dengan mendapat bahwa pertentangan itu benar-sahih terdapat, bukan hanya dalam pikiran, akan tetapi jua dalam dunia konkret. Sebagai seorang idealis objektif, Hegel tidak memedulikan argumen kaum idealis subjektif bahwa pikiran insan tidak mungkin tahu global konkret. Bentuk-bentuk pikiran wajib  mencerminkan global objektif semirip mungkin. Proses pengetahuan mengandung satu penetrasi yang semakin usang semakin dalam menerobos realitas, maju menurut yang tak berbentuk ke yang nyata, berdasarkan yang diketahui ke yang nir diketahui, berdasarkan yang khusus menuju yg umum.

Metode berpikir yang dialektik ini telah memainkan satu kiprah besar  pada Jaman Kuno, khususnya dalam ujar-ujar yang naif akan tetapi brilian dari Heraclitus (c. 500 SM), akan tetapi pula pada pemikiran Aristoteles & yang lain-lain. Metode ini ditinggalkan di Abad Pertengahan, saat Gereja membarui akal formal Aristoteles menjadi dogma yang kaku & meninggal. Metode ini nir muncul-timbul lagi hingga Kant mengembalikannya ke loka yg terhormat. Walau demikian, dalam filsafat Kant dialektika tidak menerima perkembangan yang cukup. Tugas untuk membawa ilmu berpikir dialektika ke taraf perkembangannya yg tertinggi jatuh ke tangan Hegel.

Kehebatan Hegel ditunjukkan sang liputan bahwa hanya dia sendiri yang siap menantang filsafat mekanisme yg secara umum dikuasai pada masa itu. Filsafat dialektika Hegel melihat segala sesuatunya menjadi proses, bukan hal-hal yang saling terisolasi satu sama lain. Filsafat ini melihat segala hal dalam proses kehidupannya, bukan dalam kematiannya, dalam kesalingterhubungannya, bukan dalam kesalingterpisahannya. Ini merupakan cara memandang dunia yg benar-benar terkini & ilmiah. Sesungguhnya, dalam poly aspek, Hegel maju jauh lebih dahulu berdasarkan jamannya. Walau demikian, sekalipun dia memiliki poly pandangan gemilang, filsafat Hegel dalam akhirnya tidaklah cukup memuaskan. Kekurangannya yg primer adalah sudut pandangnya yg idealis, yg menghalanginya pada menerapkan metode dialektika pada dunia konkret dengan cara yang ilmiah dan konsisten. Bukannyamendapat global material, kita malah menerima global Ide Absolut, di mana benda-benda konkret, proses & manusia digantikan sang bayangan-bayangan tidak berbentuk. Mengutip Frederick Engels, dialektika Hegelian adalah keguguran terbesar sepanjang sejarah filsafat. Ide-ide yg tepat pada sini terlihat berdiri di atas ketua mereka sendiri. Untuk menempatkan dialektika pada atas fondasi yg kukuh, sangatlah krusial buat memutarbalikkan filsafat Hegel, buat mengubah dialektika idealis menjadi materialisme dialektik. Yang ini adalah pencapaian besar  dari Karl Marx & Frederick Engels. Studi kita dimulai dengan satu ulasan ringkas mengenai hukum-hukum dasar materialisme dialektik yang mereka kemukakan.











sumber: militanindonesia.org

Posting Komentar untuk "Pembahasan Filsafat Marxisme dan Sains Modern, Fokus Filsafat dan Agama"